Lawan Korupsi Dengan Kejujuran
By |
: | admin |
Posted On |
: | Sabtu, 15 Oktober 2011 09:06:16 |
View |
: | 176 Times |
Bagi bangsa kita, korupsi bukan lagi merupakan persoalan biasa tapi telah menjadi bahaya laten yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat. Lebih dari pada itu, korupsi adalah penyakit social yang merenggut harapan masyarakat Indonesia untuk mimpi hidup sejahtera dan dapat merusak sistem demokrasi yang sedang tumbuh subur di Indonesia. Meminjam istilah medis, korupsi telah menjadi akut yang susah untuk disembuhkan oleh karena itu, berbagai upaya harus terus digalakkan demi memberantas penjarahan uang rakyat yang terstruktur (baca : korupsi).
Indonesia saat ini sedang di dera persoalan korupsi dengan berbagai bentuk, dimulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Suap, grativikasi dan berbagai bentuk korupsi lainnya sedang dilakoni oleh oknum-oknum elit di negeri ini. Lihat saja media massa, hampir saban hari berita korupsi disuguhkan kepada pembaca sehingga membuktikan Indonesia berada pada posisi “darurat” korupsi. Berbagai persoalan korupsi yang muncul selama ini membukti para elit pemerintahan kita belum mampu mengelola Negara ini dengan baik. Penegakan hukum yang berwibawa hanya berani dengan pencuri ayam dan ketika berhadapan dengan para koruptor seakan menjadi “lumpuh layu”.
Dalam beberapa minggu terakhir, kita masyarakat Indonesia sedang menyaksikan tontonan indikasi korupsi yang diperankan oleh M. Nazaruddin layaknya sebagai sebuah sinetron yang terus bersambung tapi sayang kebiasaan tontonan seperti ini berakhir tanpa ada kejelasan sehingga hal ini mencederai rasa keadilan terhadap masyarakat. Lihat saja kasus-kasus indikasi korupsi sebelumnya, awalnya seakan para pemain yang terlibat akan dijerat habis-habisan oleh para penegak hukum tapi pada akhirnya seperti es yang mencair tanpa meninggalkan bekas dan yang lebih parah, dimunculkannya kasus indikasi korupsi yang baru dengan scenario yang berbeda untuk menenggelamkan kasus indikasi korupsi sebelumnya.
Maraknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia patut kita pertanyakan, apa yang salah? Sistem pendidikankah? Elit pemerintahan yang tidak mampu? Sistem yang salah? Atau penegakan hukum yang kehilangan arah?. Semua hal tersebut harus dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan suatu kepastian sehingga nanti diharapkan akan melahirkan strategi yang ampuh untuk membasmi korupsi.
Sistem pendidikan, jika sejak pendidikan dasar diajarkan untuk saling mencontek, tentunya ini akan memberikan sumbangsih terjadinya korupsi. Sistem yang salah, proses birokrasi dan pelayanan yang lambat juga akan salah satu factor penyebab terjadinya korupsi karena lambatnya proses-proses tersebut akan membuka peluang terjadinya suap menyuap. Penegakan hukum, selama ini penegakan hukum terhadap actor yang terlibat korupsi yang ala kadar sedangkan terhadap pelaku kejahatan lain seperti pencurian ayam, hukum berdiri dengan gagah perkasa. Sehingga hal ini tidak memberi efek jera terhadap koruptor yang pada akhirnya korupsi semakin tumbuh subur seiring seiring lemahnya penegakan hukum.
Terlepas dari itu semua, modal utama memberantas korupsi adalah moral aparatur pemerintahan dan masyarakat itu sendiri. Kejujuran dan konsisten untuk tidak korupsi perlu untuk di perkuat pada masing-masing individu, terutama aparatur pemerintahan yang sangat dekat dengan upaya untuk melakukan korupsi. Hal ini bukan berarti mengabaikan penegakan hukum yang bermartabat, pembenahan sistem dan pola pendidikan yang baik tapi membangkitkan nilai kejujuran dan konsisten harus di upayakan seiring dengan perbaikan beberapa sector tadi. Salah satu pemicu terjadinya korupsi di tanah air adalah ketidak jujuran aparatur pemerintah dalam menjalankan amanahnya yang diberikan oleh rakyat.
Kejujuran memang suatu hal yang sangat sederhana, hanya membenarkan suatu yang benar bukan melakukan pembenaran atas suatu kesalahan tapi di era seperti saat ini kejujuran merupakan barang langka yang susah didapatkan dalam pribadi seseorang. Hal ini bukan bermaksud mengeneralkan bahwa di negeri ini tidak ada lagi orang jujur akan tetapi dengan fakta-fakta yang terjadi saat ini menjadi salah satu tolak ukur bahwa kejujuran adalah suatu hal yang sulit di dapat di tengah-tengah masyarakat. Masih tersirat dengan jelas dalam ingatan kita kasus contekan massal yang mengakibatkan Siami terpaksa meninggalkan kampungnya karena diusir lantaran dia mencoba menegakkan kejujuran. Sungguh sangat ironis. Ini membuktikan kejujuran sudah menjadi hal yang tabu dan seakan berdosa jika bersikap jujur.
Oleh karena itu, bersikaplah jujur meskipun itu pahit dan saya sangat percaya, kejujuran juga menjadi salah satu tool setidaknya mampu meminimalisir terjadinya tindak pidana korupsi. Dengan tertanam sikap jujur dalam pribadi seseorang akan mewujudkan pribadi yang berakhlak mulia sehingga pada akhirnya akan menghasilkan individu-individu yang mengamalkan nilai-nilai anti korupsi. Semoga…!!!
Penulis : Baihaqi
Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Anggota Masyarakat Gampong Lancok Bireuen


By
Posted On
View
Send
Print
Write