Jadilah Seperti Pelacur, Tuan!

 By :
 admin
 Posted On :
 Rabu, 28 September 2011 06:15:00
 View :
 198 Times

Oleh Azmi Abubakar – Seorang pelacur selalu berusaha untuk tampil mengesankan dan menggoda bagi pelanggannya, apalagi kalau punya tawaran yang tinggi. Secara langsung mereka telah menjadi budak dengan menuruti segala kemauan dari pelanggan setianya. Seorang pelacur juga akan selalu setia menanti pelanggan di jalan-jalan. Mereka rela menunggu pelanggannya berjam-jam. Karena, rezekinya pada hari tersebut tergantung dari jumlah pelanggannya sendiri.


Hal ini kembali mempertegas eksistensi pelacur sebagai pelayan, kalau kita analogikan dalam dunia politik maka eksistensi “pelacur” tersebut sudah sangat jauh dari laku tuan-tuan Aceh hari ini. Walaupun pada awal-awalnya mereka para tuan terus saja tampil menggoda dengan berjanji melayani seluruh kemauan rakyatnya, di mana pada awal-awalnya sang tuan melakukan goyangan demi goyangan agar rakyat tunduk dan takluk.


Dengan demikian maka dalam waktu yang tak begitu lama, rakyat akan terbuai bahkan terkapar dengan goyangan-goyangan yang dimainkan oleh sang tuan. Mereka akan tergoda dan bahkan berbalik mengikuti segala kemauan sang tuan yang tugas hakiki tuan-tuan sebenarnya adalah pelayan bagi rakyatnya. Lagi-lagi rakyat terperosok ke jurang yang lebih dalam, yang pada akhirnya bernasib menjadi budak kekuasaan.


Pada fase ini , tugas rakyat benar-benar diuji, kesetiaan mereka bukan hanya pada satu dekade saja, namun untuk masa-masa selanjutnya mereka kerap dipaksa untuk melayani nafsu kuasa sang tuan. Selanjutnya sang tuan akan semakin mengukuhkan dirinya sebagai raja yang mabuk kuasa, sang tuan akan semakin lupa diri, lupa akan jabatannya semula sebagai pelayan rakyat.


Sebagai pelayan bagi tuannya, rakyat harus siap melayani sepenuh jiwa apa yang dibutuhkan para tuan. Hal ini membuat sang tuan semakin anarkis untuk memenuhi hasrat nafsunya yang kian menggelora membara. Sebaliknya rakyat semakin apoh-apah kehilangan tenaga dipaksa untuk menjadi budak nafsu tuannya.


Mereka semakin lemah, teriakan mereka sudah sangat kecil. Namun teriakan dari rakyat yang pada dasarnya sebagai simbol ketidakadilan, malah menjadikan tuan semakin brutal dengan perilaku hayawaniyahnya. Di mana sang tuan akan tampil begitu angkuh dan sombong, tak tampak lagi sifat keromantisan dan kelemah-lembutannya yang dulu diperlihatkan. Dan manakala kuasanya hampir berakhir, maka ia sesegera mungkin meninggalkan rakyatnya yang semakin lemah tak berdaya. Akhirnya ia pergi sambil tertawa penuh kemenangan, karena telah berhasil menunaikan tugas, yakni menggagahi rakyatnya.


Umarisasi Tuan-Tuan Aceh


Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab RA. Sang amirul mukminin ini justru menjadi pelayan bagi rakyatnya. Kita tentu ingat bagaimana kisah Umar melakukan sidak-sidak ke kampung-kampung terpencil, mengujungi rakyatnya dan tak sungkan-sungkan membantu rakyatnya, termasuk hal remeh temeh sekalipun.


Sikap mulia dari kepemimpinan Umar lah yang menjadikan Umar sangat disegani dan disayangi oleh rakyat. Ia begitu dijunjung tinggi karena memang layak untuk itu. Ia adalah seorang sosok hebat pada masanya, di mana segala keadilan, kemajuan bagi perjuangan Islam sangat terasa kala itu.


Merujuk lagi kepada sosok Umar Bin Abdul Aziz, seorang negarawan bani Umayah. Di masanyalah Bani Umayah mencapai puncak kejayaan. Beliau adalah sosok yang begitu bijak dan adil. Tak sedikitpun beliau menggunakan fasilitas negara. Beliau adalah pelayan bagi rakyat Islam dinasti Bani Umayah.


Dalam wawasan ke-Aceh-an, kita akan mendapati sosok Teuku Umar yang begitu gigih berjuang untuk agama dan bangsa. Beliau selalu menjadi pelayan bagi rakyatnya padahal kalau melihat dari gelar yang disandang, jelas sekali beliau adalah seorang yang menduduki kasta mulia sebagai bangsawan.


Ketiga Umar yang penulis sebutkan ini layak untuk ditiru dan digugu. Mereka adalah sosok pemimpin yang menjadi pelayan bagi rakyat, mereka adalah raja tapi tak berlaku bagaikan tuan. Sebaliknya rakyatlah yang harus diperlakukan layaknya tuan. Mempraktekkan hal ini di Aceh hari ini tentu akan menjadi sulit manakala otak para tuan-tuan telah terkena virus keduniawian yang sedemikian dalamnya.
Umarisasi tuan-tuan di Aceh tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk belajar kembali dari mereka. Mengambil kembali akhlaknya yang luhur sebagai pemimpin. Di mana salah satunya adalah selalu melayani rakyat dengan penuh kasih sayang, dan memperlakukan rakyat sebagai tuan dan raja.


Namun lagi-lagi melihat kenyataan Aceh hari ini, kita menyadari bahwa stok untuk pemimpin berkarakter seperti Sayyidina Umar bin Khattab sudah sangat langka. Tugas pemimpin yang pada hakikatnya adalah melayani rakyat justru tidak dirasakan menyeluruh oleh rakyat Aceh. Sebaliknya kita mendapati bahwa tuan-tuan di Aceh ingin sekali dilayani.


Mereka adalah tuan dan kita adalah budak, yang pada akhirnya kita akan dipaksa untuk berteriak walaupun itu melabrak MoU alam antara rakyat dan tuan, walaupun itu sama sekali tak sesuai hati rakyat. Kalau hal ini terus saja terjadi, maka tunggulah suatu saat nanti mereka yang menderita dan mereka yang terkorbankan akan berteriak lantang kepada pemimpinnya. Jadilah seperti pelacur, Tuan! [www.harian-aceh.com]


Penulis Adalah Mahasiswa Studi Keagamaan di Universitas Al-Azhar Mesir. Aktivis Kajian Fakultatif Zawiyah KMA Mesir.


 Send |  Print

Other Topic In "Ruang Opini"

Category

Pesan Singkat

Artikel Terakhir

Top Download