Karut-marutnya Indonesia Cermin Kegagalan Pemerintah
By |
: | admin |
Posted On |
: | Kamis, 19 Agustus 2010 00:13:25 |
View |
: | 178 Times |
Karut-marutnya wajah Indonesia memasuki usia ke 65 tahun Kemerdekaan merupakan cermin kegagalan pemerintahan saat ini. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kepemimpinan yang kuat dalam pemerintahan.
Hal ini sampaikan President Director United Balimuda Heppy Trenggono dalam diskusi bertema "Indonesia Sudah Merdeka Tinggal Berkahnya" di Balimuda Center, Jakarta, Rabu (18/8).
"Pemerintahan saat ini merupakan pemerintahan kedua bagi pak SBY, harusnya bukan lagi 'Lanjutkan' tetapi 'Laksanakan'. Untuk Laksanakan itu butuh sikap kepemimpinan, itu yang tidak ada hingga kini," ujarnya.
Dikatakan Heppy, 65 tahun lalu Indonesia, Jepang dan Cina sama-sama baru merdeka. Indonesia justru makin tidak dipandang sebelahmata oleh negara lain, Sementara, Jepang dan Cina sudah punya peran signifikan dalam era perdagangan bebas. Karena itu, jika tidak ada terobosan baru dan keberanian dalam kepemimpinan maka Indonesia selamanya akan tertinggal.
Menurutnya, potensi Indonesia sangat luar biasa baik sumberdaya manusia dan sumberdaya alamnya. Sayangnya potensi itu tidak bisa digarap dengan cerdas dan nasionalisme yang kuat oleh pemimpinnya. Akibatnya sumberdaya manusia yang berkualitas lebih memilih bekerja di luar negeri, sementara sumberdaya alam yang melimpah lebih banyak digunakan pihak luar negeri. "Kalau kita tidak bisa segera menyelesaikan persoalan internal, maka akan selalu kalah,†tegasnya.
Pemerintah, menurut pengusaha muda ini, belum mampu membuat kegiatan-kegiatan produktif dan bermanfaat bagi sebagian besar warganya. Karena itu jumlah penganguran terus meningkat dan jumlah orang miskin juga demikian. Momentum kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah sebenarnya mampu menginspirasi membuat kegiatan-kegiatan produktif. "Tinggal bagaimana kepemimpinannya saja," sindirnya.
Heppy membandingkan dengan negara Jepang yang jauh lebih maju dari Indonesia. Menurut dia, masyarakat Jepang menyembah matahari dalam kehidupan beragama. Sementara, bangsa Indonesia menyembah pencipta matahari. “Saya kurang tahu apakah kita belum mendapatkan berhak-Nya, yang pasti ada yang salah dalam pemerintahan ini,†tegasnya.
Terkait antusiasnya masyarakat menyambut HUT Kemerdekaan RI. Mereka beralasan karena bertepatan dengan bulan puasa sehingga kurang bergairah. Padahal, lanjut Heppy, tanggal 17 Agustus 1945 saat proklamasi kemerdekaan dibacakan juga bertepatan dengan bulan puasa. "Republik Indonesia itu diproklamirkan bertepatan dengan bulan puasa," imbuhnya. (Faw/OL-3)
Sumber : www.mediaindonesia.com


By
Posted On
View
Send
Print
Write