Aceh, Republiken Sejati

 By :
 admin
 Posted On :
 Rabu, 18 Agustus 2010 15:00:59
 View :
 246 Times

Siappu pasti tahu bahwa Aceh daerah modal. Hal ini bukanlah mengada-ada. Apalagi bohong. Ini juga bukan bumbu atau pemanis, apalagi bentuk atas apologi sejarah. Ini adalah fakta sejarah yang tidak akan pernah bisa dipungkiri oleh siapapun.

Sepertinya Aceh memang ditakdirkan menjadi daerah modal dan istimewa dalam segala dimensinya. Sejak masa perjuangan kemerdekaan sampai sekarang, kelihatannya gelar itu masih sangat melekat bagi Aceh. Karena Aceh memang sumber sejarah, Aceh yang menjadi daerah modal ketika republik muda Indonesia sedang dalam masa kritis. Aceh yang menyumbangkan pesawat Garuda kepada Soekarno. Semua ingat bagaimana ketika rakyat Aceh ramai-ramai menyumbangkan emas untuk membantu pembelian pesawat pertama bagi republik muda ini. Juga ketika bagaimana Radio Rimba Raya di Takengon menjadi corong kemerdekaan Negara yang masih belia ketika itu. Kalau kita mau hitung-hitunganpun sudah terlalu banyak hutang republik ini yang tidak bisa terbayarkan.

Aceh pula yang terus menerus menjadi ajang percobaan pemerintah pusat dalam segala kebijakannya. Aceh dengan segala keunikannya menjadi laboratorium sosial politik pemerintah pusat di Jakarta. Aceh yang mendapatkan gelar istimewa dalam bidang agama, pendidikan dan budaya bersama dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Syariat islam juga pertama kali diterapkan di Aceh. Aceh juga yang mendapat status darurat militer, darurat sipil dan tertib sipil. Pasca-perdamaian 15 Agustus, Aceh pula yang kemudian menjadi daerah yang pertama kali dipimpin oleh Gubernur dan Wakil Gubernur dari kandidat independen dalam Pilkada 2006 lalu. Aceh dan Indonesia menyaksikan bagaimana masyarakat menaruh harapan besar kepada mantan kombatan yang mengalihkan perjuangan gerilyanya menjadi perjuangan politik di parlemen. Nasionalisme pusat perlahan beralih ke nasionalisme lokal.

Di sisi lain 15 Agustus adalah hari di mana kita mendapatkan anugerah yang tidak terkira harganya. Perdamaian yang didapat setelah konflik yang berkepanjangan merupakan hadiah yang luar biasa dari Allah swt kepada kita semua. Bagi banyak orang Aceh 15 Agustus dalam konteks tertentu, mungkin malah lebih penting daripada 17 Agustus.

Namun dalam perjalanannya ternyata 15 Agustus, malah bisa jadi tidak jauh berbeda realitasnya dengan nasib 17 Agustus, apalagi jika proses pengisian perdamaian dan segala agenda yang menjadi turunannya belum sepenuhnya bisa dijalankan. Agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi serta Wali Nanggroe misalnya masih belum menemukan titik terang. Sejumlah qanun yang seyogyanya menjadi payung hukum implementasi UUPA juga masih belum dibahas.

Tentu saja, kita di Aceh juga tidak bisa demikian saja lepas dari kesalahan dan serta merta mentasbihkan semua ketidakberesan dan ketidaktercapaian cita-cita kepada pemerintah Jakarta. Konsolidasi internal di Aceh juga perlu mendapat perhatian lebih. Kita juga harus bisa membuktikan bahwa memang jika Sabang bisa kita kelola sendiri dengan baik, serta keberadaan Wali Nanggroe dan juga KKR bisa mempercepat akselerasi dan implementasi MoU Helsinki dan UUPA.

Yang jelas Aceh juga harus bisa menunjukkan kepada pemerintah pusat, bahwa Aceh memang spesial dan menjadi prioritas, dan itu bukan karena kebetulan. Kita harus menampakkan bahwa Aceh bisa mandiri, tanpa harus mengiba kepada yang lain. Tangan orang Aceh tidak boleh dibawah, tapi diatas! Kita juga bisa lebih maju daripada daerah lain.

Orang Aceh memang sudah membuktikan bahwa dirinya adalah republiken sejati. Sejarah demi sejarah dari Aceh sudah lebih dari cukup untuk dijadikan fakta akan kegemilangan daerah ini. Aceh telah menjadi pelopor banyak hal. Hal-hal yang dulunya hampir mustahil ditemukan didaerah lain, ada di Aceh. Aceh begitu seksi untuk dilupakan-sampai-sampai ada yang menjadikan Aceh sebagai isu ‘jualan’ dan topik hangat diseluruh aktivitas akademik (makalah, riset dan sebagainya). Aceh juga menjadi pusat perhatian yang sangat strategis bagi dunia internasional. Tidak heran kalau banyak Negara yang mengalokasikan beasiswa khusus bagi anak-anak muda Aceh. Akan tetapi awas, Sir Bertrand Russel  mengatakan ‘the only thing we learn from history is that we never learn from it-satu-satunya hal yang kita tidak pernah pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar darinya, atau bahkan melupakan dan mengabaikannya.

Oleh karena itu, mari memaknai dua kemerdekaan ini (15 Agustus sebagai kemerdekaan atas didapatkannya perdamaian dan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan nasional) sebagai spirit untuk lebih menghargai sejarah. Sejarah adalah saksi bisu bahwa Aceh adalah republiken sejati, sejak dulu, sekarang bahkan sampai kapanpun. Tapi banyak yang lupa akan fakta ini. Atau sebaliknya juga, banyak yang berapologi atas nama sejarah sehingga kita tidak akan pernah bergerak ke titik yang lebih baik.

Penulis Saiful Akmal
Dosen IAIN Ar-Raniry dan peneliti The Aceh Institute.


Sumber : www.serambinews.com


 Send |  Print

Other Topic In "Ruang Opini"

Category

Pesan Singkat

Artikel Terakhir

Top Download